"komitmen itu harga mati. dalam suatu hubungan , perasaan bisa berubah tapi komitmen yang mempertahankannya"
kira2 itulah inti pembicaraan saya dengan seorang teman beberapa hari yang lalu , sebuah percakapan ringan yang akhirnya malah mengusik ketenangan hati saya sampai detik ini. saya perempuan yang dibesarkan dengan adat ketimuran , berusia mendekati seperempat abad, dan sampai dengan saat ini saya masih belum mau mengenal komitmen. relationship sebenarnya bukan hal baru untuk saya, sudah beberapa kali saya memiliki hubungan berstatus dengan pria. tapi untuk berkomitmen , saya selalu punya 1001 alasan untuk mengelak. bukannya saya tidak ingin menikah, saya wanita normal, saya ingin menikah , menjadi istri dan tentunya menjadi ibu untuk anak2 saya. saya hanya takut kegagalan , saya takut nanti akan ada penyesalan.
mungkin sebagian orang berfikir saya orang yang terlalu skeptis memandang suatu hubungan. iya, memang, inilah saya. sudah cukup banyak gambaran di depan saya tentang bagaimana wanita harus rela menjadi "korban" dan terluka untuk menjaga suatu komitmen. bantahlah saya !! katakanlah tidak semua pria seperti itu !!
tapi sayangnya dari awal saya mengenal hubungan antara laki2 dan perempuan, kenyataan yang muncul di depan saya memaparkan dengan sangat jelas gambaran yang seperti itu. jadi salahkah saya ketika akhirnya saya memandang komitmen dan pernikahan sebagai momok yang menakutkan?
saya sangat realis , saya menilai sesuatu berdasarkan fakta, dan itulah kumpulan fakta yang akhirnya tersusun rapi di kepala saya dan akhirnya mendoktrin saya untuk menempatkan komitmen pada "black" area.
disinilah saya sekarang. di batas usia , menahan diri untuk tidak terprovokasi oleh sindiran mereka tentang saya dan kesendirian saya.
di lingkungan saya , menikah seakan menjadi tujuan akhir dari setiap wanita. seorang wanita diajarkan untuk merawat diri, terlihat cantik dan menarik agar nantinya ketika datang rombongan pencari jodoh , mereka akan menjadi target yang akan dilamar.
mirisnya , untuk sebagian orang di tempat ini, sekolah bagi seorang wanita hanya sebagai formalitas, pengisi kegiatan sambil menunggu mereka dilamar. tidak sedikit orang tua yang melepaskan anaknya menikah ketika usia mereka belum mencapai 17 tahun hanya karena datang seorang pria yang dirasa cukup pantas (baca : kaya, mapan , terlihat alim) datang melamar anaknya. pernahkah sedikit terlintas dalam pikiran mereka , apa yang akan dilakukan anaknya nantinya ketika suaminya yg nyaris sempurna itu pergi??
untuk kasus ini saya termasuk beruntung karena memiliki orangtua yang tidak berpikiran sempit . tapi apa kabar dengan orang2 di sekitar kami?
masih sangat jelas sekali di ingatan saya betapa mereka menentang mati2an saya untuk melanjutkan kuliah. kondisinya saat itu memang perekonomian kami sedang sulit, saya baru saja kehilangan satu pegangan, ayah saya berpulang. hampir semua orang terdekat kami menyarankan untuk tidak melanjutkan kuliah, untuk apa sekolah tinggi kalau ujung2nya nanti cuma di dapur. bersyukur saya punya ibu yang luar biasa, jangankan menentang, alih2 malah mengikhlaskan tabungannya ludes hanya untuk membiayai kuliah saya.
Sungguh tidak terbayangkan kalau semua orang di negara ini berpikiran bahwa pendidikan untuk wanita bukanlah sesuatu yang sakral , sia2 usaha dan perjuangan kartini dulu.
Dibesarkan dalam lingkungan yang sangat islami , sangat mempengaruhi persepsi saya tentang sebuah pernikahan. ketika di luar sana wanita seumur saya bebas mencari serta memilh lelaki masa depannya. saya justru digiring masuk ke sangkar, supaya saya tetap bisa terproteksi dengan aman sampai datang saatnya seorang pria membukakan pintu sangkar ini.
Kami, wanita, adalah untuk dipilih , bukan memilih. maka tanyakanlah pada kaum pemilih itu, apa dasar mereka memilih wanita untuk mendampingi sisa hidupnya?alasan pertama tentu kecantikan fisik. ini bukan bentuk kesu'udzonan saya. tentu saja ketika belum mengenal pribadi wanitanya lebih jauh , penampilan fisiklah yang menjadi patokan.
lalu bagaimana nasib para wanita dengan fisik yang kurang menarik dan yang parahnya masih ditambah lagi dengan adanya pembatasan interaksi antar lawan jenis? bagaimana para wanita itu menunjukan betapa dibalik penampilan fisik mereka yang kurang mereka memiliki kepribadian yang memukau??
maka jangan salahkan kami kalau menghabiskan banyak rupiah dan usaha mati2an demi terlihat menarik di mata kalian , wahai kaum pemilih !!
Setelah memilih ,maka mereka akan datang kembali untuk melamar kami. kami diberikan waktu untuk saling mengenal (ta'aruf) sejak masa lamaran sampai datangnya hari lamaran. saat itulah kami harus mulai memupuk rasa, harus bisa menempatkan cinta, karena nyatanya laki2 itulah yang akan menemani kami seumur hidup.
beruntung jika cupid sedang baik , mau memanahkan panah cintanya ke hati kami.
tapi bagaimana jika sampai menjelang hari pernikahan , rasa cinta tak kunjung hadir??
ini jawabnya, ,
komitmen !!
menikahlah demi komitmen yang telah disepakati . menikahlah demi sebuah tanggungjawab. .
- di ujung kegalauan -
04 03 11
menikahlah dengan orang yang kita cintai
BalasHapusdan orang yang mencintai kita...
sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari...
:)