Selasa, 01 Maret 2011

layaknya M . A . T . A . H . A . R .I

l a n g i t  s o r e - 17.15
menunggu matahari pulang


masih ditemani cangkir yang sama
cangkir putih kecil berukir inisial nama kita
yang berisikan perpaduan 2 sendok kopi 1 sendok creamer tanpa gula
perpaduan sempurna yang kita dapat setelah ratusan sore berkutat dengan kopi, creamer, gula, dan cangkir

alunan musik ini pun tidak berubah
kumpulan lagu lagu beraliran blues yang kamu injeksikan ke kepalaku sejak 3 tahun yang lalu
katamu , musik itu seperti makanan jiwa, dan aku seperti orang yang kelaparan.
kamu pilihkan makanan dengan kualitas terbaik untukku ,
ah iya, ,terbaik menurutmu tentunya , bukan menurutku.
tapi mana pernah aku memprotes semua keputusanmu
doktrinlah aku sesukamu!!
aku menikmatinya , sungguh

sampai sore ini. . 
semuanya masih sama , seperti sore sore yang lalu
semuanya tidak ada yang aku rubah
aku memang statis
aku menikmati rutinitas
aku seakan memiliki ikatan batin dengan kemonotanan

kamu yang membawaku duduk disini setiap sore
menunggu senja katamu
tuk bersama2 menjadi saksi langit terang menjelma menjadi gelap

katamu. . 

"tak ada yang tidak berubah, bahkan langit pun berubah"
"tak ada yang tidak pulang, bahkan matahari pun pulang"


415 senja sudah aku lewati , 
di tempat yang sama
dengan semua ornamen yang sama

menatap di kejauhan , 
mencoba melerai perdebatan logika dan intuisi
mencoba mempercayai bahwa di satu senja kau akan pulang

layaknya matahari . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar