Rabu, 09 Maret 2011

you're the greatest motivator in the world , mom :)

sore itu , 
aku masih asyik dengan netbookku , menghabiskan waktu untuk browsing dan sesekali chatting
ummi datang membawa dua cangkir kopi ,
kata ummi, 

"ummi kmrn liat di tv , ada motivator muda, bagus2 itu loh motivasinya, mbok dicari di internet, diliat situsnya"

"ngapain mi?"

"ya dibaca2 , biar temotivasi buat lebih sukses"

aku tersenyum , kujawab

"diah gak butuh motivasi dari motivator manapun, gak butuh kata2 dari mereka. dia udah punya motivator paling hebat sedunia. umi cukup bilang, "jangan nyerah ya" , itu udah lebih dari puluhan alinea kata2 yang ditulis mereka"

ummi pun tersenyum. 

senyum yang membuat aku masih bertahan sampai sekarang. senyum yang selalu membangunkan aku lagi ketika aku merasa benar2 jatuh. 
wanita hebat yang membesarkan anak anaknya dengan kemampuan luar biasa. beliau tau kapan saatnya menjadi ibu, kapan saatnya menjadi sahabat , dan kapan saatnya menjadi ayah.

setiap dari kita pasti punya "first person", orang pertama yang selalu kita hubungi saat sedang sedih, galau, ada masalah, ataupun saat sedang dinaungi kebahagiaan. and she's my first person. 

pernah suatu kali , saat aku masih SMP. aku berangkat ke sekolah dengan muka ditekuk. pagi itu aku sempat adu mulut dengan ummi,tapi aku sudah lupa penyebab pastinya. kebetulan ada ulangan harian di jam pelajaran pertama. mau tau perasaanku saat itu? luar biasa panik, 10 kali lipat dari biasanya. padahal aku sudah menyiapkan diri dari semalam. akhirnya 10 menit sebelum guruku masuk , aku lari ke telepon umum terdekat. aku menelpon ummi , hanya untuk meminta maaf dan minta doa, she said , "iya, ummi gak marah. udah sana, balik ke kelas, ulangannya pasti bisa kok"
like a magic , , semua rasa panik itu hilang.

rasanya malu kalau aku masih mengeluh setelah lihat semua pengorbanan yang beliau lakukan untuk kami , anak anaknya. rasanya tidak tau diri kalau aku masih menuntut lebih dari yang beliau berikan.
bagi kami , beliau lah alasan kami tidak pernah berkata "tidak bisa"

senyum dan kebahagiaan beliau lah tujuan kami hidup. alasan kami tetap melangkah dan tak pernah berhenti.


untukmu , my greatest motivator of the world

dont ever stop to smile ! I still need it to build our dreams



-- beside my angel - -
09 03 11 - 23.57

Jumat, 04 Maret 2011

menikah : antara komitmen dan cinta

"komitmen itu harga mati. dalam suatu hubungan , perasaan bisa berubah tapi komitmen yang mempertahankannya"
kira2 itulah inti pembicaraan saya dengan seorang teman beberapa hari yang lalu , sebuah percakapan ringan yang akhirnya malah mengusik ketenangan hati saya sampai detik ini. saya perempuan yang dibesarkan dengan adat ketimuran , berusia mendekati seperempat abad, dan sampai dengan saat ini saya masih belum mau mengenal komitmen. relationship sebenarnya bukan hal baru untuk saya, sudah beberapa kali saya memiliki hubungan berstatus dengan pria. tapi untuk berkomitmen , saya selalu punya 1001 alasan untuk mengelak. bukannya saya tidak ingin menikah, saya wanita normal, saya ingin menikah , menjadi istri dan tentunya menjadi ibu untuk anak2 saya. saya hanya takut kegagalan , saya takut nanti akan ada penyesalan.
mungkin sebagian orang berfikir saya orang yang terlalu skeptis memandang suatu hubungan. iya, memang, inilah saya. sudah cukup banyak gambaran di depan saya tentang bagaimana wanita harus rela menjadi "korban" dan terluka untuk menjaga suatu komitmen. bantahlah saya !! katakanlah tidak semua pria seperti itu !!


tapi sayangnya dari awal saya mengenal hubungan antara laki2 dan perempuan, kenyataan yang muncul di depan saya memaparkan dengan sangat jelas gambaran yang seperti itu. jadi salahkah saya ketika akhirnya saya memandang komitmen dan pernikahan sebagai momok yang menakutkan?
saya sangat realis , saya menilai sesuatu berdasarkan fakta, dan itulah kumpulan fakta yang akhirnya tersusun rapi di kepala saya dan akhirnya mendoktrin saya untuk menempatkan komitmen pada "black" area.


disinilah saya sekarang. di batas usia , menahan diri untuk tidak terprovokasi oleh sindiran mereka tentang saya dan kesendirian saya.
di lingkungan saya , menikah seakan menjadi tujuan akhir dari setiap wanita. seorang wanita diajarkan untuk merawat diri, terlihat cantik dan menarik agar nantinya ketika datang rombongan pencari jodoh , mereka akan menjadi target yang akan dilamar.
mirisnya , untuk sebagian orang di tempat ini, sekolah bagi seorang wanita hanya sebagai formalitas, pengisi kegiatan sambil menunggu mereka dilamar. tidak sedikit orang tua yang melepaskan anaknya menikah ketika usia mereka belum mencapai 17 tahun hanya karena datang seorang pria yang dirasa cukup pantas (baca : kaya, mapan , terlihat alim) datang melamar anaknya. pernahkah sedikit terlintas dalam pikiran mereka , apa yang akan dilakukan anaknya nantinya ketika suaminya yg nyaris sempurna itu pergi??


untuk kasus ini saya termasuk beruntung karena memiliki orangtua yang tidak berpikiran sempit . tapi apa kabar dengan orang2 di sekitar kami?

masih sangat jelas sekali di ingatan saya betapa mereka menentang mati2an saya untuk melanjutkan kuliah. kondisinya saat itu memang perekonomian kami sedang sulit, saya baru saja kehilangan satu pegangan, ayah saya berpulang. hampir semua orang terdekat kami menyarankan untuk tidak melanjutkan kuliah, untuk apa sekolah tinggi kalau ujung2nya nanti cuma di dapur. bersyukur saya punya ibu yang luar biasa, jangankan menentang, alih2 malah mengikhlaskan tabungannya ludes hanya untuk membiayai kuliah saya.


Sungguh tidak terbayangkan kalau semua orang di negara ini berpikiran bahwa pendidikan untuk wanita bukanlah sesuatu yang sakral , sia2 usaha dan perjuangan kartini dulu.


Dibesarkan dalam lingkungan yang sangat islami , sangat mempengaruhi persepsi saya tentang sebuah pernikahan. ketika di luar sana wanita seumur saya bebas mencari serta memilh lelaki masa depannya. saya justru digiring masuk ke sangkar, supaya saya tetap bisa terproteksi dengan aman sampai datang saatnya seorang pria membukakan pintu sangkar ini.

Kami, wanita, adalah untuk dipilih , bukan memilih. maka tanyakanlah pada kaum pemilih itu, apa dasar mereka memilih wanita untuk mendampingi sisa hidupnya?alasan pertama tentu kecantikan fisik. ini bukan bentuk kesu'udzonan saya. tentu saja ketika belum mengenal pribadi wanitanya lebih jauh , penampilan fisiklah yang menjadi patokan.
lalu bagaimana nasib para wanita dengan fisik yang kurang menarik dan yang parahnya masih ditambah lagi dengan adanya pembatasan interaksi antar lawan jenis? bagaimana para wanita itu menunjukan betapa dibalik penampilan fisik mereka yang kurang mereka memiliki kepribadian yang memukau??


maka jangan salahkan kami kalau menghabiskan banyak rupiah dan usaha mati2an demi terlihat menarik di mata kalian , wahai kaum pemilih !!

Setelah memilih ,maka mereka akan datang kembali untuk melamar kami. kami diberikan waktu untuk saling mengenal (ta'aruf) sejak masa lamaran sampai datangnya hari lamaran. saat itulah kami harus mulai memupuk rasa, harus bisa menempatkan cinta, karena nyatanya laki2 itulah yang akan menemani kami seumur hidup.
beruntung jika cupid sedang baik , mau memanahkan panah cintanya ke hati kami.
tapi bagaimana jika sampai menjelang hari pernikahan , rasa cinta tak kunjung hadir??


ini jawabnya, ,


komitmen !!


menikahlah demi komitmen yang telah disepakati . menikahlah demi sebuah tanggungjawab. .


- di ujung kegalauan -

04 03 11

Selasa, 01 Maret 2011

layaknya M . A . T . A . H . A . R .I

l a n g i t  s o r e - 17.15
menunggu matahari pulang


masih ditemani cangkir yang sama
cangkir putih kecil berukir inisial nama kita
yang berisikan perpaduan 2 sendok kopi 1 sendok creamer tanpa gula
perpaduan sempurna yang kita dapat setelah ratusan sore berkutat dengan kopi, creamer, gula, dan cangkir

alunan musik ini pun tidak berubah
kumpulan lagu lagu beraliran blues yang kamu injeksikan ke kepalaku sejak 3 tahun yang lalu
katamu , musik itu seperti makanan jiwa, dan aku seperti orang yang kelaparan.
kamu pilihkan makanan dengan kualitas terbaik untukku ,
ah iya, ,terbaik menurutmu tentunya , bukan menurutku.
tapi mana pernah aku memprotes semua keputusanmu
doktrinlah aku sesukamu!!
aku menikmatinya , sungguh

sampai sore ini. . 
semuanya masih sama , seperti sore sore yang lalu
semuanya tidak ada yang aku rubah
aku memang statis
aku menikmati rutinitas
aku seakan memiliki ikatan batin dengan kemonotanan

kamu yang membawaku duduk disini setiap sore
menunggu senja katamu
tuk bersama2 menjadi saksi langit terang menjelma menjadi gelap

katamu. . 

"tak ada yang tidak berubah, bahkan langit pun berubah"
"tak ada yang tidak pulang, bahkan matahari pun pulang"


415 senja sudah aku lewati , 
di tempat yang sama
dengan semua ornamen yang sama

menatap di kejauhan , 
mencoba melerai perdebatan logika dan intuisi
mencoba mempercayai bahwa di satu senja kau akan pulang

layaknya matahari . . .